<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- RSS generated by feedland v0.6.43 on Wed, 12 Jun 2024 14:35:54 GMT -->
<rss version="2.0" xmlns:source="http://source.scripting.com/">
	<channel>
		<title>My Feed</title>
		<link>https://blue.feedland.org/?river=http://data.feedland.org/blue/feeds/saltycoco.xml</link>
		<description>It's just a feed for now</description>
		<pubDate>Wed, 12 Jun 2024 14:35:54 GMT</pubDate>
		<generator>feedland v0.6.43</generator>
		<docs>https://cyber.harvard.edu/rss/rss.html</docs>
		<lastBuildDate>Wed, 12 Jun 2024 14:35:54 GMT</lastBuildDate>
		<cloud domain="rpc.rsscloud.io" port="5337" path="/pleaseNotify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
		<source:cloud>http://rpc.rsscloud.io:5337/pleaseNotify</source:cloud>
		<source:localTime>Wed, June 12, 2024 10:35 AM EDT</source:localTime>
		<item>
			<description>&lt;p&gt;Kemaren nemu thread di X tentang mahasiswa LPDP LN masuk lower tier secara grade selama kuliah. Anecdotally, I agree sih 😂 di jurusanku sekarang, dari 9 orang awardee yg masuknya bareng kayaknya cuma 1 yang boleh dibilang perform (tidak pernah dibawah passing grade, nilainya tergolong top 25%). Sisanya yaa lumayan pas-pasan sih sebenarnya, termasuk aku sendiri hehe... The thing is, 9 orang ini sebenarnya kemampuan belajarnya kalo di Indo udah masuk kategori wow juga, bukan tipe yang main-main tiap hari terus ga belajar atau gimana. Memang, tuntutan (dan ekspektasi) akademisnya disini berbeda jauh dengan di Indonesia, dan cara belajar yang biasa dipakai di Indonesia ga mempan sama sekali di sini. &lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Ada satu temen yang dia tiap hari kalo pas ga kuliah pasti selalu di depan laptop/tablet buat baca dan review materi. Bahkan weekend pun masih sempat belajar. Sedihnya, tiap ujian nilainya ga pernah diatas passing grade. Kasus seperti ini, bisa jadi ada beberapa hipotesis:&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Satu, yang bersangkutan memang ga cocok dengan jurusannya/ga sesuai ekspektasi. Dua, sistem pendidikan di Indonesia jaman S1 yang failed to catch up and prepare their students dengan standar pembelajaran kampus LN. Tiga, seleksi LPDP tidak bisa memprediksi kasus seperti ini.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Hipotesis satu dan tiga ada korelasinya sih 😂 harusnya udah bisa disaring sejak awal kalo kasusnya begini, tapi toh LPDP tiap tahun masang target jumlah awardee naik mulu (dan hampir ga pernah tercapai), gimana ga kecolongan. Nah, melanjutkan dari situ, kalo targetnya ga pernah tercapai -&amp;gt; LPDPnya yang ga perform karena kriterianya terlalu ketat ATAU memang talenta Indonesia yang bisa perform untuk studi LN memang sangat sedikit, which is kembali ke hipotesis 2 tentang sistem pendidikan Indonesia sendiri yg bermasalah.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Sebenarnya, pendidikan beyond S1 itu kan pendidikan tersier ya, mau nilainya hancur kayak apa selama masih bisa lulus yaa whatever juga kan (even menurutku pendidikan D3/D4/S1 seharusnya masuk sekunder kalo bukan karena kriteria lowongan kerja yg makin ekstrim). Jadi ga salah2 amat kalo LPDP ga terlalu fokus pada the best academic talent in Indonesia, karena bagi mereka yg penting anda lulus anda balik ke Indo kerja membangun negeri 🤭 apalagi sekarang kategori beasiswanya macem2 ga cuma reguler.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Tapi yaa kembalikan lagi, is it a bad thing kalo awardee LPDP ga perform di kampus? Menurutku, selama dia masih bisa lanjut tesis/disertasi dan lulus, mau kayak apa nilainya ya ga masalah. Ga bakal ditanyain juga lu IPK berapa waktu S2 😂 kecuali kalo jadi wapres #eh&lt;/p&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 12 Jun 2024 14:35:54 GMT</pubDate>
			<link>https://blue.feedland.org/?item=427650</link>
			<guid>https://blue.feedland.org/?item=427650</guid>
			<source:markdown>Kemaren nemu thread di X tentang mahasiswa LPDP LN masuk lower tier secara grade selama kuliah. Anecdotally, I agree sih 😂 di jurusanku sekarang, dari 9 orang awardee yg masuknya bareng kayaknya cuma 1 yang boleh dibilang perform (tidak pernah dibawah passing grade, nilainya tergolong top 25%). Sisanya yaa lumayan pas-pasan sih sebenarnya, termasuk aku sendiri hehe... The thing is, 9 orang ini sebenarnya kemampuan belajarnya kalo di Indo udah masuk kategori wow juga, bukan tipe yang main-main tiap hari terus ga belajar atau gimana. Memang, tuntutan (dan ekspektasi) akademisnya disini berbeda jauh dengan di Indonesia, dan cara belajar yang biasa dipakai di Indonesia ga mempan sama sekali di sini.&#10;&#10;Ada satu temen yang dia tiap hari kalo pas ga kuliah pasti selalu di depan laptop/tablet buat baca dan review materi. Bahkan weekend pun masih sempat belajar. Sedihnya, tiap ujian nilainya ga pernah diatas passing grade. Kasus seperti ini, bisa jadi ada beberapa hipotesis:&#10;&#10;Satu, yang bersangkutan memang ga cocok dengan jurusannya/ga sesuai ekspektasi. Dua, sistem pendidikan di Indonesia jaman S1 yang failed to catch up and prepare their students dengan standar pembelajaran kampus LN. Tiga, seleksi LPDP tidak bisa memprediksi kasus seperti ini.&#10;&#10;Hipotesis satu dan tiga ada korelasinya sih 😂 harusnya udah bisa disaring sejak awal kalo kasusnya begini, tapi toh LPDP tiap tahun masang target jumlah awardee naik mulu (dan hampir ga pernah tercapai), gimana ga kecolongan. Nah, melanjutkan dari situ, kalo targetnya ga pernah tercapai -&gt; LPDPnya yang ga perform karena kriterianya terlalu ketat ATAU memang talenta Indonesia yang bisa perform untuk studi LN memang sangat sedikit, which is kembali ke hipotesis 2 tentang sistem pendidikan Indonesia sendiri yg bermasalah.&#10;&#10;Sebenarnya, pendidikan beyond S1 itu kan pendidikan tersier ya, mau nilainya hancur kayak apa selama masih bisa lulus yaa whatever juga kan (even menurutku pendidikan D3/D4/S1 seharusnya masuk sekunder kalo bukan karena kriteria lowongan kerja yg makin ekstrim). Jadi ga salah2 amat kalo LPDP ga terlalu fokus pada the best academic talent in Indonesia, karena bagi mereka yg penting anda lulus anda balik ke Indo kerja membangun negeri 🤭 apalagi sekarang kategori beasiswanya macem2 ga cuma reguler.&#10;&#10;Tapi yaa kembalikan lagi, is it a bad thing kalo awardee LPDP ga perform di kampus? Menurutku, selama dia masih bisa lanjut tesis/disertasi dan lulus, mau kayak apa nilainya ya ga masalah. Ga bakal ditanyain juga lu IPK berapa waktu S2 😂 kecuali kalo jadi wapres #eh</source:markdown>
			</item>
		<item>
			<description>&lt;p&gt;Kemaren nemu thread di X tentang mahasiswa LPDP LN masuk lower tier secara grade selama kuliah. Anecdotally, I agree sih 😂 di jurusanku sekarang, dari 9 orang awardee yg masuknya bareng kayaknya cuma 1 yang boleh dibilang perform (tidak pernah dibawah passing grade, nilainya tergolong top 25%). Sisanya yaa lumayan pas-pasan sih sebenarnya, termasuk aku sendiri hehe... The thing is, 9 orang ini sebenarnya kemampuan belajarnya kalo di Indo udah masuk kategori wow juga, bukan tipe yang main-main tiap hari terus ga belajar atau gimana. Memang, tuntutan (dan ekspektasi) akademisnya disini berbeda jauh dengan di Indonesia, dan cara belajar yang biasa dipakai di Indonesia ga mempan sama sekali di sini.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Ada satu temen yang dia tiap hari kalo pas ga kuliah pasti selalu di depan laptop/tablet buat baca dan review materi. Bahkan weekend pun masih sempat belajar. Sedihnya, tiap ujian nilainya ga pernah diatas passing grade. Kasus seperti ini, bisa jadi ada beberapa hipotesis:&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Satu, yang bersangkutan memang ga cocok dengan jurusannya/ga sesuai ekspektasi. Dua, sistem pendidikan di Indonesia jaman S1 yang failed to catch up and prepare their students dengan standar pembelajaran kampus LN. Tiga, seleksi LPDP tidak bisa memprediksi kasus seperti ini.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Hipotesis satu dan tiga ada korelasinya sih 😂 harusnya udah bisa disaring sejak awal kalo kasusnya begini, tapi toh LPDP tiap tahun masang target jumlah awardee naik mulu (dan hampir ga pernah tercapai), gimana ga kecolongan. Nah, melanjutkan dari situ, kalo targetnya ga pernah tercapai -&amp;gt; LPDPnya yang ga perform karena kriterianya terlalu ketat ATAU memang talenta Indonesia yang bisa perform untuk studi LN memang sangat sedikit, which is kembali ke hipotesis 2 tentang sistem pendidikan Indonesia sendiri yg bermasalah.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Sebenarnya, pendidikan beyond S1 itu kan pendidikan tersier ya, mau nilainya hancur kayak apa selama masih bisa lulus yaa whatever juga kan (even menurutku pendidikan D3/D4/S1 seharusnya masuk sekunder kalo bukan karena kriteria lowongan kerja yg makin ekstrim). Jadi ga salah2 amat kalo LPDP ga terlalu fokus pada the best academic talent in Indonesia, karena bagi mereka yg penting anda lulus anda balik ke Indo kerja membangun negeri 🤭 apalagi sekarang kategori beasiswanya macem2 ga cuma reguler.&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;Tapi yaa kembalikan lagi, is it a bad thing kalo awardee LPDP ga perform di kampus? Menurutku, selama dia masih bisa lanjut tesis/disertasi dan lulus, mau kayak apa nilainya ya ga masalah. Ga bakal ditanyain juga lu IPK berapa waktu S2 😂 kecuali kalo jadi wapres #eh&lt;/p&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 12 Jun 2024 14:34:06 GMT</pubDate>
			<link>https://blue.feedland.org/?item=427646</link>
			<guid>https://blue.feedland.org/?item=427646</guid>
			<source:markdown>Kemaren nemu thread di X tentang mahasiswa LPDP LN masuk lower tier secara grade selama kuliah. Anecdotally, I agree sih 😂 di jurusanku sekarang, dari 9 orang awardee yg masuknya bareng kayaknya cuma 1 yang boleh dibilang perform (tidak pernah dibawah passing grade, nilainya tergolong top 25%). Sisanya yaa lumayan pas-pasan sih sebenarnya, termasuk aku sendiri hehe... The thing is, 9 orang ini sebenarnya kemampuan belajarnya kalo di Indo udah masuk kategori wow juga, bukan tipe yang main-main tiap hari terus ga belajar atau gimana. Memang, tuntutan (dan ekspektasi) akademisnya disini berbeda jauh dengan di Indonesia, dan cara belajar yang biasa dipakai di Indonesia ga mempan sama sekali di sini.&#10;&#10;Ada satu temen yang dia tiap hari kalo pas ga kuliah pasti selalu di depan laptop/tablet buat baca dan review materi. Bahkan weekend pun masih sempat belajar. Sedihnya, tiap ujian nilainya ga pernah diatas passing grade. Kasus seperti ini, bisa jadi ada beberapa hipotesis:&#10;&#10;Satu, yang bersangkutan memang ga cocok dengan jurusannya/ga sesuai ekspektasi. Dua, sistem pendidikan di Indonesia jaman S1 yang failed to catch up and prepare their students dengan standar pembelajaran kampus LN. Tiga, seleksi LPDP tidak bisa memprediksi kasus seperti ini.&#10;&#10;Hipotesis satu dan tiga ada korelasinya sih 😂 harusnya udah bisa disaring sejak awal kalo kasusnya begini, tapi toh LPDP tiap tahun masang target jumlah awardee naik mulu (dan hampir ga pernah tercapai), gimana ga kecolongan. Nah, melanjutkan dari situ, kalo targetnya ga pernah tercapai -&gt; LPDPnya yang ga perform karena kriterianya terlalu ketat ATAU memang talenta Indonesia yang bisa perform untuk studi LN memang sangat sedikit, which is kembali ke hipotesis 2 tentang sistem pendidikan Indonesia sendiri yg bermasalah.&#10;&#10;Sebenarnya, pendidikan beyond S1 itu kan pendidikan tersier ya, mau nilainya hancur kayak apa selama masih bisa lulus yaa whatever juga kan (even menurutku pendidikan D3/D4/S1 seharusnya masuk sekunder kalo bukan karena kriteria lowongan kerja yg makin ekstrim). Jadi ga salah2 amat kalo LPDP ga terlalu fokus pada the best academic talent in Indonesia, karena bagi mereka yg penting anda lulus anda balik ke Indo kerja membangun negeri 🤭 apalagi sekarang kategori beasiswanya macem2 ga cuma reguler.&#10;&#10;Tapi yaa kembalikan lagi, is it a bad thing kalo awardee LPDP ga perform di kampus? Menurutku, selama dia masih bisa lanjut tesis/disertasi dan lulus, mau kayak apa nilainya ya ga masalah. Ga bakal ditanyain juga lu IPK berapa waktu S2 😂 kecuali kalo jadi wapres #eh</source:markdown>
			</item>
		</channel>
	</rss>
